Politisi dan Petani

Postingan ini mungkin agak serius isinya. Saya pikir sudah saatnya saya mengutarakan kegundahan hati selama ini. 
.
Karena hampir separuh usia hidup saya tinggal di Ibukota sepertinya saya jadi lupa bagaimana rasanya jadi orang yang jauh dari peradaban yang berisik ini. Di ibu kota semuanya mudah didapatkan, barang-barang, informasi, pekerjaan, kesempatan dan banyak lagi. Sampai saya kembali menghabiskan beberapa waktu di desa orang tua dan berbaur dengan cara berpikir mereka.
.
Saya jarang terganggu dengan omongan politisi yang sering mengatasnamakan “rakyat kecil”. Karena saya tidak tau rakyat kecil mana yang mereka sering dengarkan keluhannya. Biarkan saja, namanya juga politisi ya. Tapi ketika omongan itu dipercaya oleh yang bukan “rakyat kecil”, kok saya jadi sedikit terganggu.
Mari saya jelaskan lebih sederhana yang saya maksud dan apa hubungannya dengan petani.
Ketika politisi berteriak agar harga bahan pangan turun (padahal harganya biasa aja), adakah orang kecil yang dia bela? TIDAK ADA.
Dan kalau pun harga bahan pangan turun, adakah orang kecil yang dirugikan? BANYAK.
Taukah warga metropolitan bahwa dengan harga cabe di pasar 25rb/Kg, maka harga yang bisa dinikmati petani hanya 10rb/kg? Dengan harga jeruk manis 15/Kg, maka harga yang dinikmati oleh petani hanya 3rb/kg. Dan tahukah kalian bahwa untuk menanam semuanya itu mereka butuh modal dan dengan gambaran harga di atas mereka merugi? RUGI bukan impas ya, dan kita tertawa gembira di sini. Saya kehabisan kata kalau kita masih mau terprovokasi dengan politisi yang katakan sekarang harga semakin mahal (padahal segitu2 aja) dan kita mengaminkannya.Gambaran ini juga berlaku untuk peternak.
Foto ini diambil beberapa waktu lalu saat kami menghabiskan waktu bertani sehari di ladang orang tua saya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Posts created 3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top